Bioskop, Media Menikmati Film atau Media untuk Mendaki Tangga Sosial?


Sebagai permulaan gua berterima kasih sama mbak Hesti yang mengilhami hadirnya topik ini di kepala gua (go check her blog and don’t forget to say hi too!).

Oke mari kita mulai curhatan gua.

Belakangan ini gua sering melihat di berbagai media sosial yang bertebaran dimana-mana—macem Instagram, path, bigo, snapchat ataupun twitter—banyaknya pengguna yang sering menebar postingan soal film yang dia tonton saat itu juga.

Apalagi kemaren sempet dibahas sama Mbah @CenayangFilm juga, dasar emang tukang kompor orang tua itu makin rame dah tuh.

Peristiwa-peristiwa gini sebenernya ngga aneh sih, ngga cuma di Indonesia aja—di luar negeri pun banyak orang-orang yang ngelakuin hal kaya gitu. Makanya kadang-kadang banyak scene yang bocor macem di media kaya reddit, 9gag, 4chan, dan semacamnya. Itu yang bikin kadang-kadang beberapa penikmat film suka kesel, entah karena kesibukan atau apa pas dia mau nonton film yang baru aja nongol di bioskop eh ternyata udah bocor duluan.

Oh iya, bagi orang awam yang ngga tau maksudnya—hal yang gua maksud itu istilahnya adalah spoiler. Menurut Wikipedia spoiler tuh kaya gini:

“A spoiler is an element of a disseminated summary or description of any piece of fiction that reveals any plot elements which threaten to give away important details. Typically, the details of the conclusion of the plot, including the climax and ending, are especially regarded as spoiler material. It can also be used to refer to any piece of information regarding any part of a given media that a potential consumer would not want to know beforehand. Because enjoyment of fiction depends a great deal upon the suspense of revealing plot details through standard narrative progression, the prior revelation of how things will turn out can "spoil" the enjoyment that some consumers of the narrative would otherwise have experienced. Spoilers can be found in message boards, articles, reviews, commercials, and movie trailers”. Sumber: Wikipedia

Intinya adalah semua hal atau bentuk yang mengindikasikan kebocoran material media fiksi dalam bentuk apapun biasa disebut spoiler.

Lanjut lagi.

Soal banyaknya spoiler belakangan ini, salah satu hal yang menguatkan permasalahan ini adalah banyak pengguna media sosial yang “berani” merekam atau menangkap momen bagian dari film yang dia tonton ke media sosial. Sebenernya ngga ada yang salah sih kalo dia ingin nangkep momen-momen itu buat dia sendiri. Permasalahan utamanya adalah: hal itu jelas disalahkan oleh aturan di bioskop soal mengambil gambar dalam bentuk apapun dan menyebarkan yang kalian tangkap ke media sosial.

Plislah teman-teman yang budiman.

Cobalah dilogikakan itu ya soal nyebar spoiler, kalian hidup udah ada jalannya kan? Terus tiba-tiba Tuhan ngasih tau ke khalayak publik kalo jodoh kalian itu si A padahal kalian udah ngejar-ngejar si B. Padahal kalian tau kalo si A menurut publik kelakuannya yang jelek-jelek doang lah yang bikin kalian ngga diterima di publik. Ngga mau kan? Mending kalian ngga tau jalan takdir kalian kan?

Oke sebenernya ngga nyambung-nyambung amat logikanya, cuma pada dasarnya sama: kalian gamau kan apa yang akan terjadi dibocorin padahal kalian udah gatau apa yang bakal terjadi dan kalian menikmatinya?. Sama kaya kita-kita yang ngga pengen hype nya nonton suatu film yang baru bisa ditonton setelah sekian lama Taunya dibocorin sama orang plotnya. Bikin bete.

Terus, soal pengambilan gambar di dalam bioskop. Jelas-jelas di awal sebelum film mulai “jangan mengambil gambar dalam bentuk apapun”. Oke kalian udah tau kalo ngebajak itu pake camcorder atau handycam atau handheld yang ukuranny besar. Tapi tau kan kalo kalian mengambil gambar dengan handphone adalah hal yang sama? Padahal sudah jelas tertulis: “jangan mengambil gambar dalam bentuk apapun”.

Oke gua nulis statement yang sama dua kali dalam satu paragraf. Ngga efektif.

Lebih baik kita menelisik aturan soal spoiler ini.

Menurut pasal 72 ayat (2) Undang-Undang Hak Cipta (UUHC) No. 19  tahun 2002:

“Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Nah hak cipta yang dimaksud pun termasuk sinematografi (atau yang biasa kita sebut film) sesuai dengan pasal 12 ayat (1) huruf k:

“Dalam Undang-undang ini Ciptaan yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang mencakup: 
k. sinematografi
…”

Berdasarkan aturan tersebut udah jelas kalo emang film ngga boleh disebarluaskan dalam bentuk apapun…..yang dimana lagi musim tuh akhir-akhir ini.

Apalagi makin kenceng kejadiannya pas lagi musim film La La Land (2016) yang baru keluar beberapa hari/minggu lalu di Indonesia (yang dimana gua sendiri belum nonton. Lol) dimana banyak orang yang nge-post kalo mereka lagi nonton film itu. Terus setelah diskusi pendek sama Mbak hesti ini (masih ingat kan temen gua yang di-mention diawal?)…..dipikir-pikir juga ada benernya, apakah orang-orang ini update hanya sekedar nunjukkin kalo mereka nonton film yang lagi hype?.

Well, ada contoh kasus, waktu lalu ada orang-orang yang sempet gua tegur karena nebar spoiler La La Land sama Star Wars : The Force Awaken (2015) hampir setahun yang lalu (mohon maaf kalo orangnya ngga sengaja baca dan sadar, semoga biar sadar).

Untuk orang yang nebar foto The Force Awaken waktu itu sempet ter-bully juga sih karena semua comment yang ada di post dia semuanya negur dia.

Bayangkan. Ditegur rame-rame. Di media sosial dia sendiri. Notifikasi dia rame gara-gara komentar orang-orang soal spoiler. Kurang malu apa coba. Pff.

Lalu ada beberapa orang yang ngepost La La Land. Gua coba tegur malah disinisin balik.

“lah kan gitu doang”

“kan bentar doang”

“apa sih cuma foto doang kan”

Oke gua gabisa komentar apa-apa kalo udah digituin karena kondisinya udah one by one. Ngga ada orang-orang yang backing.

Tapi pada akhirnya gua pun langsung introspeksi diri. Apakah gua dulu pernah melakukan hal seperti itu di waktu yang lalu-lalu? Kalo memang pernah berarti pada hari ini pun gua sadar kalo gua udah berubah dan lari dari jurang kesesatan yang dinamakan PEPES atau para penebar spoiler.

Oke itu garing. Mohon dimaafkan.

Tapi tolonglah teman-teman…..film itu ada untuk dinikmati dan sebagai media hiburan. Bukan jadi bikin kesel orang….

…..atau memang sekarang kalo nonton film hype dan ngepost spoiler nya di media sosial bakal naikin kasta sosial?

Kalo begitu gua lebih memilih jadi orang yang kasta sosialnya rendah daripada menggadaikan kesenangan pribadi untuk menjadi atlit pendaki tangga sosial.

Grazie!

My Instagram